Senin, 31 Agustus 2026. Saya menguji rancangan disertasi mahasiswa S-3 bersama beberapa orang dosen, salah satunya adalah Prof. Dr. Abdul Hafiz Anshari, MA yang akrab saya panggil “Pak Hafiz”. Setelah tanya-jawab dan diskusi dengan mahasiswa teruji sekitar dua jam, ujian pun selesai. Saya dan Pak Hafiz berbincang ringan, sambil melangkah ke luar gedung. Tiba-tiba beliau mengatakan, “Hari ini adalah hari terakhirku. Besok, 1 September 2026, aku resmi pensiun.” Saya terkejut, karena saya mengira beliau pensiun bulan Oktober nanti. Karena hari terakhir, beliau ingin mengosongkan ruangannya di gedung pasca. “Mungkin nanti bisa digunakan untuk yang lain,” katanya. Saya pun segera menghubungi salah seorang staf kami untuk membantu Pak Hafiz.
Pernahkah kita membuka media sosial tanpa berniat membeli apa pun, tetapi beberapa menit kemudian justru tertarik pada suatu produk? Awalnya hanya melihatnya sekilas di beranda. Tidak lama kemudian, produk serupa muncul lagi. Seorang influencer menggunakannya, teman membicarakannya, ulasan positif bermunculan, lalu iklannya kembali hadir di layar kita. Barang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan perlahan terasa menarik. Dari ketertarikan muncul keinginan, dan dari keinginan kemudian timbul perasaan bahwa barang tersebut memang kita perlukan.
SUBUH belum sepenuhnya terang ketika para acil sudah mendayung jukung menyusuri Sungai Martapura, membawa hasil kebun dan wadai yang akan dijual di pasar terapung. Pemandangan itu telah berlangsung turun-temurun, jauh sebelum istilah perempuan pekerja masuk ke dalam percakapan kita. Hari ini, jukung itu berganti sepeda motor, dan pasar terapung berganti ruang kelas, kantor, rumah sakit, atau lapak daring. Sosoknya tetap sama: perempuan Banjar yang bagawi sejak pagi, lalu pulang untuk mengurus rumah dan anak-anaknya.
ADA momen ketika penulis menyadari dakwah tidak lagi menanti hadirnya seseorang ke majelis — ia justru datang menyapa melewati notifikasi di layar gawai. Sebuah potongan video singkat dari seorang muslimah yang berbagi hikmah sambil menyapih buah hatinya, atau caption pendek yang menenangkan di tengah linimasa yang riuh. Dari situlah awal tulisan ini beranjak. Keingintahuan penulis untuk menelaah sosok perempuan Banjar, yang selama ini dikenal teguh menjaga tradisi keagamaan secara kultural-domestik. Kini menemukan panggung barunya di ruang digital. Bukan untuk meninggalkan akar, melainkan untuk memperpanjang jangkauannya. Melalui tulisan ini, penulis mengajak pembaca menatap lebih dekat karakter komunikasi perempuan dalam berdakwah — yang lembut namun kuat, personal namun menyentuh banyak hati — sebagai wajah baru everyday digital dakwah di tanah Banjar.
Setiap tahun, Matahari bergerak melintas tepat di atas Kota Mekah (tepat di atas Ka’bah). Peristiwa ini terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada 27 dan 28 Mei serta 15 dan 16 Juli. Saat itu, bayangan dari benda yang berdiri tegak lurus (misalnya tiang atau tongkat) di seluruh dunia yang sedang mengalami siang hari akan mengarah tepat ke Ka’bah. Peristiwa ini disebut Istiwa’ A’zam (Matahari di atas Ka’bah).
IDULFITRI selalu identik dengan satu kata kunci yang menghangatkan: silaturahmi. dari pintu ke pintu, dari tangan ke tangan, dari pelukan ke pelukan – tradisi ini telah menjadi jantung perayaan umat Islam setelah sebulan berpuasa. Namun, di era digital, wajah silaturahmi mengalami perubahan yang signifikan. Kehadiran fisik perlahan berbagi ruang dengan kehadiran virtual.
Inilah ironi yang tak kunjung usai: secara astronomi, kita semua punya data yang sama. Posisi bulan, matahari, dan bumi bisa dihitung dengan presisi hingga detik. Tapi ketika tiba penentuan 1 Syawal, umat Islam masih saja bisa berbeda. Tahun 2026 ini, kita kembali dihadapkan pada potensi perbedaan. Kementerian Agama, Persis dan NU kemungkinan besar berlebaran Sabtu, 21 Maret 2026, sementara Muhammadiyah dan negara pengguna KHGT serta sebagian dunia Islam lainnya berlebaran dirayakan sehari lebih awal, Jumat, 20 Maret 2026. Lantas, mana yang benar? Jawabannya tidak sederhana. Perbedaan ini bukan soal benar-salah, melainkan soal kerangka fikih dan astronomi yang digunakan. apakah kita cukup melihat hilal di wilayah sendiri, atau kita menganggap rukyat di tempat lain berlaku untuk semua? Inilah pertarungan antara dua pendekatan: Neo-MABIMS yang regional dan KHGT yang global. Mari kita bedah bersama.
LANSKAP pendidikan tinggi global di dekade ketiga abad ini sedang mengalami pergeseran dahsyat yang tak terelakkan. Bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), tantangan ini menjadi lebih kompleks. Institusi yang selama ini memegang teguh peran sebagai penjaga tradisi dan nilai-nilai keislaman—seringkali diibaratkan sebagai menara gading di tengah masyarakat—kini berhadapan dengan tekanan luar biasa dari demokratisasi informasi, disrupsi teknologi, dan perubahan fundamental pasar tenaga kerja. Di tengah gelombang ketidakpastian (VUCA) dan akselerasi Revolusi Industri 4.0 dan memasuki Society 5.0 ini, kita harus mengakui satu kebenaran pahit: model universitas tradisional, termasuk di lingkungan PTKI, tidak lagi sepenuhnya memadai untuk menjawab tantangan zaman.
TRANSFORMASI IAIN menjadi UIN adalah salah satu perubahan paling besar dalam sejarah pendidikan tinggi Islam Indonesia. Perubahan ini lahir dari kebutuhan zaman: membuka akses akademik lebih luas, memperkaya disiplin ilmu, dan membuat kampus Islam dapat berkompetisi di tingkat global. Namun, di balik keberhasilan administratif dan perluasan fakultas, ada satu isu yang jarang dibicarakan secara terbuka: bagaimana wajah Islam kampus ini terbentuk di mata publik setelah transformasi tersebut?
Setiap tanggal 10 November, kita sebagai warga negara Indonesia yang sadar akan jasa perjuangan para pahlawan memperingati hari Pahlawan. Pada tanggal 10 November 1945, telah terjadi pertempuran besar di Surabaya. Ketika itu, para pahlawan melawan tentara sekutu yang terdiri dari Inggris dan Belanda yang ingin melanggengkan penjajahan atas negeri ini. Pasukan Indonesia dipimpin oleh Bung Tomo dan para tokoh lainnya menghalau sekutu. Beberapa tokoh Islam, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah, dan beberapa kiyai lainnya ikut menggerakkan para santri melawan kekuatan asing. Peristiwa ini menggambarkan sikap heroik para pahlawan.









